Kamis, 16 November 2017

CATATAN PEJUANG HIJRAH, Hijarah tanpa Nanti


Cinta dan Pacaran

“Pacaran itu ibarat candu yang bikin ketagihan. Nafsu yang harus terus terpenuhi. Akhirnya malah kepala penuh dengan khayalan dan bayangan yang tidak semestinya.” -  Felix Siauw

Masih ada yang belum bisa membedakan antara cinta dan pacaran yang akhirnya membuat gagal paham. Dalam buku Indonesia Tanpa Pacaran, dijelaskan bahwa akibat kesalahpahaman tentang cinta dan pacaran kini banyak generasi muda Indonesia turut salah bersikap.
Jika mengekspresikan cinta dengan cara berpacaran adalah suatu hal yang sangat tidak dianjurkan, lalu bagaimana cara mengekspresikan cinta dalam Islam?

Cinta mengundang murka Allah adalah cinta yang dapat menjauhkan kita pada-Nya. Cinta yang hanya menuruti hawa nafsu sehingga diri terjerumus dalam jebakan setan yang sanagat ingin menghancurkan manusia.

“Cinta adalah gelombang makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi. Goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semua nyata.” – Anis Matta

Mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan membingkai cinta manusia dalam kerangka mahabbatullah adalah salah satu kunci mencapai rida Allah. “Katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampu lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Rasulullah saw., pernah bersabda bahwa dua orang yang saling mencintai dan berpisah semata karena Allah akan mendapat perlakuan khusus dari Allah kelak di hari kiamat akan mendapat naungan-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berhijab

“Mau jilbabin hati dulu, baru jilbabin tubuh,” sedikit penggalan dari seorang wanita yang belum berhijab.

Hijab adalah pakaian yang diturunkan untuk para muslim, guna untuk menutupi auratnya. Aurat adalah bagian tubuh yang haram dilihat, sehingga wajib untuk ditutupi. Islam menjaga dan memuliakan kaum wanita. Karena itu Islam megatur dan menurunkan aturan hijab ini semata sebagai perlindungan kaum wanita dari godaan  yang mengancam. Termasuk godaan laki-laki yang bukan mahramnya.

Teman adalah cerminan diri. Manusia selalu memilih teman yang mirip dengannya dalam hobi, kecenderungan, pandangan, dan pemikiran. Oleh karena itu, Islam memberi batasan-batasan yang jelas dalam soal pertemanan. Rasulullah bersabda, “Seseorang itu bergantung pada agama temannya. Maka hendaklah salah satu seorang diri kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)


Allah juga berfirman. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts