Cinta dan Pacaran
“Pacaran
itu ibarat candu yang bikin ketagihan. Nafsu yang harus terus terpenuhi.
Akhirnya malah kepala penuh dengan khayalan dan bayangan yang tidak
semestinya.” - Felix Siauw
Masih
ada yang belum bisa membedakan antara cinta dan pacaran yang akhirnya membuat
gagal paham. Dalam buku Indonesia Tanpa
Pacaran, dijelaskan bahwa akibat kesalahpahaman tentang cinta dan pacaran
kini banyak generasi muda Indonesia turut salah bersikap.
Jika
mengekspresikan cinta dengan cara berpacaran adalah suatu hal yang sangat tidak
dianjurkan, lalu bagaimana cara mengekspresikan cinta dalam Islam?
Cinta
mengundang murka Allah adalah cinta yang dapat menjauhkan kita pada-Nya. Cinta
yang hanya menuruti hawa nafsu sehingga diri terjerumus dalam jebakan setan
yang sanagat ingin menghancurkan manusia.
“Cinta
adalah gelombang makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi.
Goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semua nyata.” – Anis Matta
Mencintai
Allah dan Rasul-Nya, dan membingkai cinta manusia dalam kerangka mahabbatullah adalah salah satu kunci
mencapai rida Allah. “Katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha
Pengampu lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Rasulullah
saw., pernah bersabda bahwa dua orang yang saling mencintai dan berpisah semata
karena Allah akan mendapat perlakuan khusus dari Allah kelak di hari kiamat
akan mendapat naungan-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Berhijab
“Mau jilbabin hati dulu, baru
jilbabin tubuh,” sedikit penggalan dari seorang wanita
yang belum berhijab.
Hijab
adalah pakaian yang diturunkan untuk para muslim, guna untuk menutupi auratnya.
Aurat adalah bagian tubuh yang haram dilihat, sehingga wajib untuk ditutupi.
Islam menjaga dan memuliakan kaum wanita. Karena itu Islam megatur dan
menurunkan aturan hijab ini semata sebagai perlindungan kaum wanita dari
godaan yang mengancam. Termasuk godaan
laki-laki yang bukan mahramnya.
Teman
adalah cerminan diri. Manusia selalu memilih teman yang mirip dengannya dalam
hobi, kecenderungan, pandangan, dan pemikiran. Oleh karena itu, Islam memberi
batasan-batasan yang jelas dalam soal pertemanan. Rasulullah bersabda,
“Seseorang itu bergantung pada agama temannya. Maka hendaklah salah satu
seorang diri kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Allah
juga berfirman. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
0 komentar:
Posting Komentar