Selasa, 31 Oktober 2017

Tausiyah Cinta

Arti Cinta
Mahabbah atau cinta adalah topik pembicaraa menarik yang selalu hadir di tengah-tengah manusia. Ibnu Qayyim Al-Jauziy meriwayatkan beberapa ungkapan tentang cinta. ‘Al-‘Abbas bin Al-Ahnat berkata, “Setiap manusia pasti memiliki cinta. Taka da kebaikan bagi orang yang tidak memiliki cinta.”
Menurut Imam Al-Ghazali, mahabbah adalah kecenderungan hati kepada yang dicintainya karena ia merasa senang berada di dekatnya, dan benci adalah kebalikannya, yaitu perasaan tidak senang terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengannya.
Terlepas dari banyaknya penjelasan mengenai definisi dan seluk-beluk cinta, yang jelas konsep kepada Allah adalah satu ajaran pokok melatarbelakangi Islam rahmat bagi seluruh adalah salah satu mencar keridhaan Allah.

.      Mahabbatullah (cinta kepada Allah)
Cinta kepada Allah adalah cinta yang sebenar-benarnya, cinta hakiki, dan merupakan kewajiban bagi kita untuk mewujudkannya. Tetapi, hanya dengan mencitai Allah saja tidak cukup untuk meyelamatkan kita dari siksa atau azab-Nya, karena orang-orng musyrik, para penyembah salib, umat Yahudi, dan lainnya juga mencintai Allah.
Orag-orang Yahudi dan Nasrani berkata, ‘Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. ‘Katakanlah, ‘Maka, mengapa Allah menyiksamu karena dosa-dosamu?’”(QS. Al-Ma’idah: 18)
    .      Mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai apa yang dicintai Allah)
Agar dapat memperoleh cinta dari siapa yang kita cintai, seharusnya kita mencintai apa yang ia cintai terlebih dulu. Mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai apa yang dicintai Allah) akan memasukkan seseorang ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Kecintaan kepada Allah terhadap seorang hamba berbanding lurus dengan kadar kecintaan ini.
.      Al-Hubbu fillah wa lillah (cinta kerena Allah dan di jalan Allah)
Mencintai apa yang dicintai Allah tidak akan lurus kecuali jika ia mencintai karena Allah dan di jalan Allah. Contohnya adalah seorang muslum tentu mencintai Rasulullah saw. Akan tetapi, jika cinta ini tidak dilakukan di jalan Allah, tidak sesuai dengan tuntunan syariat, atau tidak mengikuti perintah beliau, cinta itu akan menjadi kemaksiatan bahkan kesyirikan. Contoh lainnya adalah kecintaan seorang Muslim kepada saudaranya yang dilandasi keimanan.
.      Al-Mahabbah ma’allah (cinta yang mendua kepada Allah)
Maksudnya, kita mencintai selain Allah dan juga mencintai Allah dengan kadar yang sama.
Allah berfirman, “Dan di antara mnusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
.      Al-Mahabbah ath-thabi’iyyah (rasa cinta yang manusiawi)
Untuk cinta jenis ini memiliki kesesuaian dengan watak dan naluri kita untuk mencintai. Orang yang sedang haus tentu mencintai air. Begitu pula orang yang lapar mencintai makanan.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Ini bukan cinta yang dicela, kecuali jika melalikan kita dari mengingat Allah dan menyibukan diri kita dari cinta kepada-Nya.
“Dijadikan imdah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surge).” (QS. Ali-Imran: 14)

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts