Arti
Cinta
Mahabbah atau
cinta adalah topik pembicaraa menarik yang selalu hadir di tengah-tengah
manusia. Ibnu Qayyim Al-Jauziy meriwayatkan beberapa ungkapan tentang cinta. ‘Al-‘Abbas
bin Al-Ahnat berkata, “Setiap manusia pasti memiliki cinta. Taka da kebaikan
bagi orang yang tidak memiliki cinta.”
Menurut
Imam Al-Ghazali, mahabbah adalah
kecenderungan hati kepada yang dicintainya karena ia merasa senang berada di
dekatnya, dan benci adalah kebalikannya, yaitu perasaan tidak senang terhadap
sesuatu yang tidak sesuai dengannya.
Terlepas
dari banyaknya penjelasan mengenai definisi dan seluk-beluk cinta, yang jelas
konsep kepada Allah adalah satu ajaran pokok melatarbelakangi Islam rahmat bagi
seluruh adalah salah satu mencar keridhaan Allah.
. Mahabbatullah (cinta kepada Allah)
Cinta
kepada Allah adalah cinta yang sebenar-benarnya, cinta hakiki, dan merupakan
kewajiban bagi kita untuk mewujudkannya. Tetapi, hanya dengan mencitai Allah
saja tidak cukup untuk meyelamatkan kita dari siksa atau azab-Nya, karena
orang-orng musyrik, para penyembah salib, umat Yahudi, dan lainnya juga
mencintai Allah.
“Orag-orang Yahudi dan Nasrani berkata, ‘Kami
adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. ‘Katakanlah, ‘Maka, mengapa
Allah menyiksamu karena dosa-dosamu?’”(QS. Al-Ma’idah: 18)
. Mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai apa yang dicintai Allah)
. Mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai apa yang dicintai Allah)
Agar
dapat memperoleh cinta dari siapa yang kita cintai, seharusnya kita mencintai
apa yang ia cintai terlebih dulu. Mahabbatu
ma yuhibbullah (mencintai apa yang dicintai Allah) akan memasukkan
seseorang ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Kecintaan kepada
Allah terhadap seorang hamba berbanding lurus dengan kadar kecintaan ini.
. Al-Hubbu fillah wa lillah (cinta kerena Allah dan di jalan Allah)
. Al-Hubbu fillah wa lillah (cinta kerena Allah dan di jalan Allah)
Mencintai
apa yang dicintai Allah tidak akan lurus kecuali jika ia mencintai karena Allah
dan di jalan Allah. Contohnya adalah seorang muslum tentu mencintai Rasulullah
saw. Akan tetapi, jika cinta ini tidak dilakukan di jalan Allah, tidak sesuai
dengan tuntunan syariat, atau tidak mengikuti perintah beliau, cinta itu akan
menjadi kemaksiatan bahkan kesyirikan. Contoh lainnya adalah kecintaan seorang
Muslim kepada saudaranya yang dilandasi keimanan.
. Al-Mahabbah ma’allah (cinta yang mendua kepada Allah)
. Al-Mahabbah ma’allah (cinta yang mendua kepada Allah)
Maksudnya,
kita mencintai selain Allah dan juga mencintai Allah dengan kadar yang sama.
Allah
berfirman, “Dan di antara mnusia ada
orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
. Al-Mahabbah ath-thabi’iyyah (rasa cinta yang manusiawi)
. Al-Mahabbah ath-thabi’iyyah (rasa cinta yang manusiawi)
Untuk
cinta jenis ini memiliki kesesuaian dengan watak dan naluri kita untuk
mencintai. Orang yang sedang haus tentu mencintai air. Begitu pula orang yang
lapar mencintai makanan.
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah.
Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS.
Al-Munafiqun: 9)
Ini
bukan cinta yang dicela, kecuali jika melalikan kita dari mengingat Allah dan
menyibukan diri kita dari cinta kepada-Nya.
“Dijadikan imdah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak, dan lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di
sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surge).” (QS.
Ali-Imran: 14)
0 komentar:
Posting Komentar