Faktor dan kondisi yang berbeda memengaruhi pemilihan strategi memasuki
pasar internasioanl. Ada empat aliran pemikiran (schools of thought) dominan
berkenaan dengan pemilihan strategi masuk, yaitu: (Chandra,
2004:152-154).
1) Keterlibatan inkremental
terhadap (Gradual Incremental involvement), yang menghubungkan antara komitmen
sumber daya di pasar sasaran dengan risiko dalam pasar bersangkutan dan
pengalaman internasional yang dimiliki perusahaan. Oleh sebab itu, semakin
besar risiko di pasar sasaran , maka pilihan akan jatuh pada strategi masuk
yang lebih kecil komitmen sumber dayanya. Selain itu semakin besar pengalaman
organisasi, maka semakin besar pula kemungkinan digunakannya strategi masuk
yang menuntut komitmen sumber daya besar.
2) Analisis biaya
transaksi (Transaction Cost Analysis) memandang keputusan pemilihan strategi
masuk sebagai suatu transaksi. Oleh sebab itu, semua biaya berkaitan dengan
aspek rantai nilai dari produksi hingga konsumsi akan dipertimbangkan dengan
cermat. Asumsi dasar dalam aliran pemikiran ini adalah bahwa perusahaan akan
melakukan sendiri aktivitas-aktivitas yang mampu dilakukan dengan biya lebih
rendah, namun akan melakukan subkontrak kepada pihak eksternal apabila pihak
tersebut memiliki keunggulan biaya.
3) Eclectic Theory
(Location- Specific Factors atau Contingency Theory) berpandangan bahwa
faktor-faktor industri, perusahaan, dan negara spesifik mempengaruhi keputusan
pemlihan strategi masuk tergantung pada posisi ownership advantage, internationalization
advantage dan location advantage.
4) Agency Theory
berpandangan bahwa principal (pendatang baru) sangat termotivasi untuk
mengumpulkan data mengenai para agennya di pasar sasaran. Aliran ini
menggunakan metafora kontrak untuk menggambarkan hubungan di mana salah satu
pihak mendelegasikan pekerjaan kepada pihak lain.
Lotayif (2003), misalnya menggelompokan strategi masuk ke dalam empat kategori, yaitu ;
1) Wholly-owned and
full controlled entry modes, contohnya kantor cabang (branches &
subsidiaries), kantor perwakilan (representative office) dan kantor agen.
2) Shared-owend and
shared controllrd entry modes, berupa joint venture, partially mergers dan
partially acquisitions.
3) Contractual
entry modes, berupa lisensi, waralaba dan calculated alliance.
4) Purely
marketing-oriented entry modes, berupa ekspor langsung dan ekspor tidak
langsung.
Dalam memutuskan bagaimana memasuki pasar, apabila perusahaan telah
memutuskan untuk masuk ke Negara tertentu maka ia haru memutuskan cara yang
terbaik. Pilihannya luas yaitu ekspor tidak langsung, ekspor langsung lisensi,
usaha patungan dan investasi langsung.Tiap strategi memiliki banyak komitmen,
resiko, kontrol dan potensi laba.
2.1.Ekspor
Kegiatan ekspor merupakan kegiatan yang banyak dilakukan perusahaan
untuk mengembangkan bisnisnya di pasar global. Ekspor adalah salah satu sektor
perekonomian yang memegang peranan penting melalui perluasan pasar antara
beberapa negara, di mana dapat mengadakan perluasan dalam suatu industri,
sehingga mendorong dalam industri lain, selanjutnya mendorong sektor lainnya
dari perekonomian (Baldwin, 2005). Kegiatan ekspor adalah sistem perdagangan
dengan cara mengeluarkan barangbarang dari dalam negeri keluar negeri dengan
memenuhi ketentuan yang berlaku. Ekspor merupakan total barang dan jasa yang
dijual oleh sebuah negara ke negara lain, termasuk diantara barang-barang,
asuransi, dan jasa-jasa pada suatu tahun tertentu (Triyoso, 2004).
Ekspor merupakan strategi yang paling sering dijumpai dalam memasuki
pasar internasional, terutama untuk strategi masuk pertama kali. Tak jarang
motivasi ekspor karena permintaan tak terduga, misalnya ada pesanan dari
pembeli tertentu di luar negeri atau ada pelanggan domestik berekspansi ke
pasar internasional dan memesan produk untuk keperluan operasi
internasionalnya. Permintaan-permintaan semacam ini mendorong perusahaan untuk
mempertimbangkan pasar internasional dan menelaah potensi pertumbuhannya.
Namun tak jarang dijumpai pula perusahaan yang secara agresif melakukan
ekspor sebagai strategi masuk awalan untuk kemudian dikembangkan menjadi
operasi bisnis berbasis di luar negeri. Dalam berbagai kasus di mana terdapat
skala ekonomis substansial atau hanya ada sedikit pembeli di seluruh dunia
(misalnya , pasar pesawat luar angkasa), maka produksi lebih baik
dikonsentrasikan di satu atau hanya beberapa lokasi untuk kemudian diekspor ke
pasar lainnya. Contohnya, Boeing mengkonsentrasikan produksinya di pusat di
Seattle, Washington.
Ekspor dapat diorganisasikan berdasarkan berbagi cara, tergantung jumlah
dan tipe perantaranya. Seperti halnya dalam perdagangan grosir, agen
ekspor-impor bervariasi menurut rangkaian fungsi yang dijalankan. Beberapa di
antaranya (seperti perusahaan manajemen ekspor) merupakan full-service
wholesalers yang melaksanakan semua fungsi berkaitan dengan ekspor. Sementara
yang lain sangat terspesialisasi dan hanya menangani beberapa aspek, seperti
pengiriman, penagihan, atau mengurus administrasi produk dari pabean. Dalam
pengembangan saluran ekspor, perusahaan harus memutuskan fungs-fungsi mana saja
yang akan menjadi tanggung jawab agen eksternal dan mana yang ditangani
sendiri.
2.2.Pemberian Lisensi
Perjanjian Lisensi memungkinkan sebuah perusahaan asing untuk membeli
hak untuk memproduksi dan menjual produk perusahaan dalam negara tuan rumah
atau sejumlah negara. Pihak yang memberi lisensi mendapatkan royalti setiap
unit yang diproduksi dan dijual.Pihak yang menerima lisensi mengambil resiko
dan menginvestasikan dananya dalam fasilitas untuk memproduksi, memasarkan dan
mendistribusikan barang-barang dan jasa akibatnya, pemberian lisensi merupakan
salah satu bentuk jaringan organisasional yang semakin umum dilakukan,
khususnya diantara perusahaan-perusahaan kecil. Pemberian lisensi juga
merupakan salah satu cara untuk memperluas tingkat laba yang didasarkan pada
inovasi-inovasi sebelumnya.
Lisensi merupakan pilihan yang tepat apabila perusahaan memiliki hak
cipta tertentu, seperti teknologi proses atau produk yang telah dipatenkan,
merek dagang atau nama merek, yang bisa dimanfaatkan dalam skala internasional
tanpa harus mencurahkan banyak sumber daya untuk operasi internasional. Dalam
kesepakatan lisensi, perusahaan memberikan hak untuk memanfaatkan teknologi, merek
dagang atau nama merek yang dipatenkan kepada licensee dengan mendapatkan
pembayaran royalti. Umumnya tersebut ditentukan berdasarkan persentase dari
penjualan sesuai kesepakatan. Lisensi memungkinkan perusahaan untuk
mendapatkan manfaat dari penjualan internasional dengan memanfaatkan
proprietary assets yang dimiliki dengan komitmen sumber daya dan risiko
minimal. Namun, kesepakatan semacam ini hanya memberikan hasil (returns)
terbatas. Selain itu, pengembangan pasar juga terbatas jika licensee tidak mencurahkan
perhatian yang memadai atau tidak memiliki sumber daya untuk mengembangkan
pasar secara optimal.
Lisensi juga bisa menghambat strategi masuk pasar tahap selanjutnya yang
direncanakan oleh licensor. Meskipun perusahaan membatasi jangka waktu kesepakatan
lisensi, sangatlah sukar memasuki pasar jika kontrak berakhir. Mantan licensee
bisa menjadi pesaing potensial. Lagipula, perusahaan masih harus memulai lagi
pengumpulan informasi mengenai pasar, menjalin kontak dan membangun saluran
distribusi. Selain itu, dalam beberapa kasus licensee berhenti membayar royalti
dan perusahan sulit melacak penjualan yang royaltinya masih harus dibayar.
Sekalipun mendatangkan uang dalam jumlah besar, tindakan seperti itu
juga beresiko, terutama bila merek dagangnya digunakan untuk produk-produk yang
tidak memenuhi standar kualitas atau reliabilitas atau jika strategi
pemasarannya tidak tepat. Itu bisa merusak reputasi dan nilai merek dagang
bersangkutan. Konsekuensinya, seperti halnya contract manufacturing, licensor
harus selalu memantau aktivitas licensee dan melakukan pengendalian kualitas
dan keuangan secara ketat guna menjamin bahwa licensee memenuhi standar yang
telah disepakati bersama.
2.3. Usaha Patungan (Joint Venture)
Usaha patungan atau Joint Venture merupakan persetujuan diantara
dua pihak atau lebih untuk melakukan kerjasama di dalam suatu proyek,
seringkali suatu joint venture dilakukan apabila perusahaan-perusahaan dengan
teknologi yang saling melengkapi ingin menciptakan barang atau jasa yang akan
saling memperkuat posisi masing-masing perusahaan. Pihak-pihak itu
setuju untuk berkelompok dengan menyumbang keadilan kepemilikan, dan kemudian
saham dalam penerimaan, biaya, dan kontrol perusahaan. Salah satu cara
yang juga efektif untuk membatasi ekspor modal dalam pasar global adalah
membangung usaha patungan, terutama dengan mitra bisnis lokal.
Usaha patungan bisa bermacam-macam bentuknya, tergantung tujuan
perusahaan, persyaratan modal usaha bersangkutan dan peraturan pemerintah
menyangkut kepemilikan asing. Selain itu, motivasinya pun bisa beraneka ragam
diantaranya: untuk mendapatkan akses pasar; memperluas rentang produk;
membentuk atau mempengaruhi struktur pasar; mencapai tingkat kecepatan
(dalam hal inovasi dan memasuki pasar) yang lebih besar; meningkatkan
efisiensi; dan atau meningkatkan kompetensi dan sumber daya organisasi.
Apabila tujuan usaha patungan adalah melaksanakan proyek
pembanguna infrastruktur pokok atau pertanian (seperti proyek waduk atau
irigasi, penambangan batu bara dan lain-lain), biasanya dibentuk
konsorsium yang melibatkan banyak mitra bisnis asing. Bank maupun lembaga
keuangan lainnya berperan sebagai peyandang dana, sementara pihak-pihak
lain menyumbang keahlian teknologis. Biasanya proyek semacam ini dilakukan
di negara berkembang dan melibatkan institusi pemerintah yang melakukan
fungsi kontrol atas pelaksanaan proyek tersebut.
Bentuk usaha patungan lainnya adalah kerja sama antara dua
perusahaan swasta. Misalnya, sebuah perusahaan membuka usaha patungan
dengan perusahaan lokal di negara lain. Kerapkali perusahaan asing
memberikan konstibusi berupa keahlian produksi dan teknologi, serta
kadangkala nama merek dan reputasi perusahaan, sedangkan mitra lokalnya
menyediakan akses ke jaringan distribusi dan pengetahuan serta pemahaman
atas lingkungan pasar setempat.
Strategi usaha patungan memberikan sejumlah keuntungan sebagai
cara memasuki pasar luar negeri. Meskipun menuntut komitmen sumber daya
pasar luar negeri, usaha patungan bisa memberikan potensi laba dan kendali
yang lebih besar atas manajemen produksi dan pemasaran di pasar
bersangkutan. Risiko modal ditanggung bersama dengan mitra lokal. Selain
itu, mitra lokal berperan besar dalam hal pemahaman atas kondisi pasar
lokal dan juga memiliki kontak dengan distribusi lokal dan institusi kunci
lainnya di negaranya. Perusahaan bisa mendapatakan pengetahuan dan umpan
balik mengenai kondisi pasar; kebutuhan dan respon pelanggan; para pesaing
utama dan kemungkinan reaksi mereka dan secara bertahap mendapatkan
pengalaman beroperasi dalam pasar bersangkutan.
Selain itu, usaha patungan juga sangat bermanfaat untuk memasuki pasar
yang sistem perekonomiannya berbeda, seperti RRC dan negara-negara pecahan
Uni Soviet. Di RRC, misalnya, pemerintah setempat mendorong usaha patungan
dalam rangka alih teknologi dan keahlian manajerial kepada perusahaan
lokal. Namun, banyak juga perusahaan yang mengalami kesulitan dan masalah
dalam menjalin usaha patungan di berbagai negara. Sekalipun dalam jangka
pendek, usaha patungan dengan mitra lokal memberikan keunggulan berupa
informasi, kontak dan keahlian pemasaran lokal. Biasanya dalam jangka panjang
dijumpai banyak masalah. Bahkan Douglas &Craig (1995) mengestimasi
bahwa antara 50 sampai 70 persen usaha patungan mengalami kegagalan.
Beberapa masalah dalam usaha pantungan diantaranya: masalah
komunikasi, perbedaan budaya perusahaan, perbedaan gaya manajemen,
repatriasi laba, perbedaan kepentingan dan tujuan, ketidakpuasan atas
kinerja mitra bisnis, lunturnya rasa saling percaya dan komitmen bersama
dan sebagainya.
2.4.Strategi Perluasan Pasar
Dalam melakukan perluasan pasar, ada beberapa strategi yang dapat
dilakukan guna untuk dapat memperluas pasar, yaitu sebagai berikut:
1) Tambahkan Produk
Serta Layanan Baru
Terdengar sederhana, hanya menambah produk dan
layanan baru. Namun, untuk menjalankan strategi ini dengan serius, dibutuhkan
kerja keras. Anda harus tahu produk dan layanan apa yang konsumen inginkan.
Selain itu, berapa banyak dari mereka yang mau membayar untuk jumlah produk dan
layanan baru ini. Selanjutnya, apakah Anda mampu memenuhi permintaan mereka
atau tidak. Agar tidak hanya berangan-angan, riset pasar perlu dilakukan untuk
mengetahui apa yang diinginkan pasar serta berapa jumlahnya.
2) Menjual Produk dan
Layanan Pada Pelanggan yang Sudah Ada dengan Peningkatan Jumlah
Disini Anda akan memerlukan sebuah analisis segmentasi
pasar guna mengidentifikasi segmen konsumen yang membeli paling banyak. Dengan
cara ini, maka Anda bisa meningkatkan jumlah penjualan kepada konsumen yang
sudah ada. Selanjutnya, Anda akan fokus pada penjualan serta strategi pemasaran
yang fokus di segmen ini. Strategi ini juga terdengar mudah namun cukup sulit
mengimplementasikannya jika tidak dengan analisis segmentasi pasar.
3) Lebarkan Pasar ke
Daerah Baru
Di sini, Anda akan mencari pelanggan baru potensial. Anda
juga membutuhkan riset lapangan disini agar produk yang dijual akan diterima
oleh pelanggan baru. Di sini, Anda akan melakukan riset pasar untuk
menentukan daerah mana yang akan menjadi target pasar. Jika dimungkinkan
potensinya besar, maka langkah selanjutnya adalah memilih lokasi strategis
untuk memasarkan produk kepada pelanggan baru sedekat mungkin. Anda akan
melakukan beberapa strategi membangun bisnis dari awal.
4) Targetkan Pasar
Serta Pelanggan Baru
Biasanya, pebisnis akan memasarkan produjnya
berdasarkan demografi tertentu seperti usia, lokasi, jenis kelamin atau
psokografis seperti aktivitas, minat juga nila-nilai tertentu. Namun, jika
hanya itu, tentu Anda tidak akan mendapatkan pelanggan baru yang lebih banyak.
Pastinya masih ada lagi pelanggan baru yang bisa memanfaatkan produk Anda.
Cobalah iklankan atau pasarkan produk secara dengan media yang tepat serta
waktu yang tepat pula.
5) Masuk Pada Sistem
Penjualan Baru
Strategi ini menuntut Anda untuk memasuki dunia
bisnis baru yakni ke pemasaran online. Sudah banyak bukti toko kecil kemudian
beralih menjadi besar saat ia berhasil memanfaatkan teknologi dan sistem
pemasaran online. Dengan media dan strategi online
marketing yang baik, maka Anda bisa meningkatkan penjualan
tanpa batasan ruang dan waktu. Selanjutnya, Anda akan mencoba sistem delivery
yang baru baik dengan armada sendiri atau dengan jasa pengiriman barang. Selain
itu, peningkatan SEO (Search Engine Optimization) juga
diperlukan untuk memudahkan pelanggan dunia maya menemukan produk Anda.
6) Mengambil Alih
Bisnis Lain
Ya, jika bisnis dipandang masih kurang memiliki
jumlah pasar atau Anda ingin benar-benar menjangkau pasar yang lebih luas,
sudah bisa dipastikan bahwa dengan mengambil alih perusahaan atau bisnis orang
lain maka jumlah pelanggan Anda otomatis akan meningkat.
2.5.Penentuan Posisi Pasar
Dalam menentukan posisi pasar dalam pasar global, bisa dilakukan dengan
segmentasi pasar. Menurut Swastha dan Handoko (1997) mengartikan segmentasi
pasar sebagai kegiatan membagi-bagi pasar atau market yang bersifat heterogen
kedalam satuan-satuan pasar yang bersifat homogeny. Sedangkan menurut Pride dan
Ferel (1995) mengatakan bahwa segmentasi pasar adalah suatu proses membagi
pasar kedalam segmen-segmen pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik
yang menunjukkan adanya kesamaan perilaku pembeli. Segmentasi pasar global
sendiri adalah suatu proses membagi pasar dunia kedalam kelompok pelanggan
tertentu yang memiliki perilaku yang sama atau memiliki kebutuhan yang serupa.
Menurut Theodore Levitt, mengatakan bahwa konsumen di negara yang
berbeda semakin mencari sesuatu yang variatif dan karenanya timbul segmen baru
yang sama yang ada di pasar dunia. Menurut Bradley yang dikutip dari
Setiadi (2003), dalam memilih pasar sasaran mana yang akan diambil ada
faktor-faktor yang perlu diperhatikan yaitu:
1) Sumber daya
organisasi
Dalam memilih segmen maka perlu diperhatikan sumber
daya yang ada karena semakin banyak segmen yang dipilih maka biaya yang
dibutuhkan akan semakin banyak. Pemasaran terpusat akan menjadi pilihan
organisasi kecil yaitu dengan cara mengarahkan pema-saran pada segmen-segmen
yang kecil, unik, dan kurang mendapatkan perhatian pesaing besar yang dinamakan
juga se-bagai market niche.
2) Tipe produk
Ada produk yang disebut high-differentiated
product maka strategi yang digunakan bisadifferentiated atau con-centrated
marketing karena pada produk tersebut mudah diciptakan keunikan yang
membedakannya dari produk lain. Ada juga yang low differentiated product,
maka strategi yang dipilih, yaitu undiffer-entiated marketing karena
pada produk jenis ini sulit diciptakan keunikan-keunikan.
3) Tahap dalam daur hidup produk
Produk memiliki siklus, yang dimulai dengan tahap
perkenalan pasar, pertumbuhan, dewasa, dan menurun. Pada masa perkenalan,
dapat diterapkan pemasaran serba sama. Pada masa pertumbuhan produk semakin dapat
diterima dan pasar mulai menginginkan variasi pro-duk, maka dapat diterapkan
pemasaran serba aneka. Pada masa dewasa per-saingan sudah mencapai titik
maksimal dan seluruh segmen sudah terisi, maka organisasi mulai mencari
segmen-segmen yang belum dilayani secara mak-simal oleh pesaing sehingga
pemasaran dapat diterapkan pemasaran terkonsen-trasi. Pada masa penurunan,
organisasi perlu membatasi investasi, memperkecil biaya pemasaran serta
memusatkan sumber daya pada produk dan segmen yang lebih menguntungkan dan
pema-saran terkonsentrasi yang sesuai untuk diterapkan.
4) Strategi pesaing
dan strategi bersaing organisasi
Untuk memilih strategi mana yang akan diterapkan
oleh organisasi, maka perlu memperhatikan juga strategi yang diterapkan oleh
pesaing dan strategi bersaing yang dipilih organisasi. Pilihan strateginya bisa
berhadapan langsung atau menghindar. Kalau berhadapan langsung, maka organisasi
akan memilih segmen yang dimasuki oleh pesaing. Sedangkan kalau menganut
strategi menghindar, maka organisasi memasuki segmen yang belum dimasuki oleh
pesaing.




