Senin, 14 Agustus 2017

TOKOH EKONOMI ISLAM

“Ibnu Khaldun”

Jika kita berbicara tentang seorang tokoh ekonomi islam yang satu ini, memang cukup unik dan mengagumkan. Sebenarnya, dialah yang patut dikatakan sebagai pendiri ilmu sosial. Nama lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. Pemikiran-pemikirannya yang cemerlang mampu memberikan pengaruh besar bagi orang-orang Barat dan Timur, baik muslim maupun non-muslim.

Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H/27 Mei 1332 M adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula. Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes, Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo. Masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Al-quran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika. Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir.
Lalu ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara. Setelah keluar dari penjara, dimulailah kehidupan Ibnu Khaldun yang berkonsentrasi pada bidang penelitian dan penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama dibuatnya. Seperti kitab al-‘ibar yang telah ia revisi dan ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-‘Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar. Kitab al-i’bar ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru terlihat setelah 27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog German dan Austria yang memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern.
Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya), Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis), Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).
DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of Aberdeen, Scotland dalam artikelnya “The Islamic Review & Arabic Affairs” di tahun 1970-an mengomentari tentang karya-karya Ibnu Khaldun. Ia menyatakan tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu Khaldun hanya satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat, terutama ahli-ahli sosiologi dalam bahasa Inggris. Salah satu tulisan yang sangat menonjol dan populer adalah muqaddimah (pendahuluan) yang merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji hingga saat ini. Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan “gejala-gejala sosial”, dengan metode-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut.
Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat. Bab ke dua dan ke empat berbicara tentang gejala-gejala yang berkaitan dengan cara berkumpulnya manusia serta menerangkan pengaruh faktor-faktor dan lingkungan geografis terhadap gejala-gejala ini.
Bab ke empat dan kelima, menerangkan tentang ekonomi dalam individu, bermasyarakat maupun negara. Sedangkan bab ke enam berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuan serta alat-alatnya. Sungguh mengagumkan sekali sebuah karya di abad ke-14 dengan lengkap menerangkan hal ihwal sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu dan pengetahuan. Ia telah menjelaskan terbentuk dan lenyapnya negara-negara dengan teori sejarah.
            Ibnu Khaldun adalah sosok yang luar biasa tesis-tesis yang kemukakan Ibn Khaldun dalam Muqaddimah enam abad lalu masih tetap menjadi bahan kajian di kalangan para sarjana, Timur dan Barat, muslin dan non-muslim. Ini menandakan bahwa tesis-tesis tersebut juga mengandung nuansa kemodernan. Sejumlah sarjana Barat memberikan penghargaan yang tinggi terhadap Ibnu Khaldun, bahkan terkesan berlebihan. Watt misalnya, mengomentari Ibnu Khaldun sebagai perintis sosiologi, juga di hormati sebagai sejarawan besar. Ibnu Khaldun telah melahirkan konsep-konsep baru secara ilmiah tentang pengajaran dan meletakkan pengajaran  pada tempatnya yang layak dalam kerangka umum faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik pengaruh lingkungan alam maupun lingkungan sosial dan kultural. Suatu pandangan yang masih langka di masanya.
            Tingginya penghargaan terhadap pemikiran Ibnu Khaldun telah dipaparkan di atas bukan berarti teori-teorinya tidak mempunyai sisi kelemahan. Kelemahan-kelemahannya tersebut dalam ilmiah dapat ditelusuri antara lain dari segi bangunan filosofinya, kontruksi teoritiknya, aplikasi dan dimensi metodologisnya. Penilaian ini jelas menunjukkan kurang lengkapnya Ibnu Khaldun menampilkan sebuah teori pendidikan, baik rumusan konseptualnya maupun hukum-hukum dasar yang dibutuhkan dengan teoritik.
            Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa Ibnu Khaldun adalah sosok atau tokoh ekonomi islam yang sangat luar biasa. Beliau mampu menciptakan terori-teori yang belum ada pada zaman dulu. Teri-teorinyapun tidak hanya terkenal di kalangan muslim tetapi juga non-muslim. Bahkan sampai sekarang masih banyak orang yang mempelajari teroi-teroinynya. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Khaldun tidak hanya bersikap semata-mata terhadap realitas pengajaran di zamannya, tetapi juga memberikan solusi serta memberikan rumus atau bentuk teori-teori universalnya yang dapat digunakan sepanjang masa.







0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts