Surat
untuk Pem-bullyku di SMP
Assalamualaikum Wr.Wb
Hallo teman-teman pada kesempatan kali ini aku pengen
cerita sedikit tentang masa laluku wkwk. Karena adanya motivasi dan luka yang
belum bisa ilang (asekk) tentang pembullyan 6 tahun yang lalu aku putuskan untuk
menulis blog ini. Waktu itu iseng ke toko buku di daerah depok terus enggak
sengaja liat novel “IGEN (Islamic Generation)” dan baca-baca sebentar terus
nemu halaman tentang pembullyan gitu. Seketika ingatanku langsung kembali
kemasa-masa SMP. So, tulisan ini terinspirasi dari novel “IGEN (Islamic
Generation)” yang aku baca. Kalau mau liat aslinya bisa beli novelnya di toko
buku terdekat.
Seperti yang banyak
orang pikirkan mungkin dikirannya aku enggak punya masa lalu yang kelam. Tapi
semua salah, aku pernah jadi korban pembullyan di SMP. Mumpung ada kesempatan
untuk nulis blog kali ini, aku mau menulis sedikit surat cinta untuk dia (Sebut
saja Vinar).
* * *
Dear, Vinar...
Hai Vin, apa kabar kamu di sana?
Aku alhamdulillah baik dan terus membaik dari hari ke hari. Bukan
karena penampilan aku udah sempurna, apalagi karena sekarang aku sudah menjadi
orang sukses. Bukan! Aku selalu yakin, kita akan selalu terjaga dalam keadaan
baik kala syukur selalu meraja di dada. Nggak peduli gimana pun kondisinya.
Sebetulnya aku mau banget ngelupain apa yang pernah kamu
lakuin ke aku dulu, tapi bagi kami (aku dan temenku, sebut saja Rias) para
korban bullying, sesukses-suksesnya kami di masa sekarang, bekas bullying itu
pastilah masih menghantui.
Masih inget banget waktu itu aku yang notabene masih anak
baru (maklum baru pindah sekolah) di kelas 7C kamu bisa semena-mena sama aku.
Kamu perintah aku kesana-kesini, kalau enggak di turutin kemauan kamu aku pasti
bakal di hukum untuk duduk ke kursi paling belakang di kelas, sendiri ikut
anak-anak cowok yang nakalnya tingkat dewa. Kenapa aku nggak lawan? Entah waktu
itu aku kayak nggak punya keberanian buat ngomong “enggak mau” itu terasa berat
campur takut dan pengen nangis. Kalau di inget malah mesam-mesem pengen ketawa
juga marah sih waktu aku pengen ngebantuin (sebut saja Rias) dari omelan kamu
karena dia salah beliin kamu minuman, kamu malah nusuk tanganku dengan jarum. Anehnya
sekelas enggak ada yang mau bantuin aku sama (sebut saja Rias), entah mereka
takut atau memang kami menjadi tontonan yang apik. Apapun motif perlakuan kamu
ke aku, yaudah aku terima dan aku maafin walau mungkin kamu udah lupa.
Alhamdulillah sih, sekarang aku udah berani ngomong tidak
kalau emang enggak sesuai dengan aku. Udah pede sama diri aku, dan pastinya aku
bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepadaku, karena kalo ngomong tentang
keburukan enggak ada habisnya.
Buat semua pembully lainnya juga, tolong jangan salahin kami
ya kalau momen-momen kami dibully dulu masih nggak bisa kami lupain sampai tua
kelak. Karena kayak judul lagunya The Corrs: Forgiven not Forgotten. Mungkin
kami bisa memaafkan, tapi sulit bagi kami untuk melupakan. Ibarat paku yang
kalian tancapkan di atas papan, begitu juga kondisi hati kami. Meski paku itu
sudah tercabut, bekasnya akan selalu ada. Tersimpan rapi di hati kami. Doakan
saja semoga kami tidak mendendam. Ok, see you on top!
Salam cinta,
Dariku sang korban bullying
* * *
Hahh.. lega
udah nulis semua yang ada di pikiran. Kalau dibilang mirip sama novel aslinya,
emang iya. Karena aku suka banget sama kata-katanya halus tapi langsung mengena
(ciiieeee....). Sekian post kali ini, semoga terinspirasi dan bagi para korban
bullying ayo tunjukkan kepada mereka semua dengan kesuksesan. ^_^
Wassalamualaikum
Wr. Wb
Ternyata pernah jadi korban bully juga Yo... *toss 😂 Jangan sedih, biasanya di masa depan orang yg dibully bisa lebih berhasil dari orang yang membully... 😄
BalasHapus*toss wkwk samaan mbakk.... Amin mba Erna aminn :D
Hapus