Jumat, 21 Oktober 2016

Surat untuk Pembully

Surat untuk Pem-bullyku di SMP

Assalamualaikum Wr.Wb
Hallo  teman-teman pada kesempatan kali ini aku pengen cerita sedikit tentang masa laluku wkwk. Karena adanya motivasi dan luka yang belum bisa ilang (asekk) tentang pembullyan 6 tahun yang lalu aku putuskan untuk menulis blog ini. Waktu itu iseng ke toko buku di daerah depok terus enggak sengaja liat novel “IGEN (Islamic Generation)” dan baca-baca sebentar terus nemu halaman tentang pembullyan gitu. Seketika ingatanku langsung kembali kemasa-masa SMP. So, tulisan ini terinspirasi dari novel “IGEN (Islamic Generation)” yang aku baca. Kalau mau liat aslinya bisa beli novelnya di toko buku terdekat.
Seperti yang banyak orang pikirkan mungkin dikirannya aku enggak punya masa lalu yang kelam. Tapi semua salah, aku pernah jadi korban pembullyan di SMP. Mumpung ada kesempatan untuk nulis blog kali ini, aku mau menulis sedikit surat cinta untuk dia (Sebut saja Vinar).

* * *
Dear, Vinar...
Hai Vin, apa kabar kamu di sana?
Aku alhamdulillah baik dan terus membaik dari hari ke hari. Bukan karena penampilan aku udah sempurna, apalagi karena sekarang aku sudah menjadi orang sukses. Bukan! Aku selalu yakin, kita akan selalu terjaga dalam keadaan baik kala syukur selalu meraja di dada. Nggak peduli gimana pun kondisinya.
Sebetulnya aku mau banget ngelupain apa yang pernah kamu lakuin ke aku dulu, tapi bagi kami (aku dan temenku, sebut saja Rias) para korban bullying, sesukses-suksesnya kami di masa sekarang, bekas bullying itu pastilah masih menghantui.
Masih inget banget waktu itu aku yang notabene masih anak baru (maklum baru pindah sekolah) di kelas 7C kamu bisa semena-mena sama aku. Kamu perintah aku kesana-kesini, kalau enggak di turutin kemauan kamu aku pasti bakal di hukum untuk duduk ke kursi paling belakang di kelas, sendiri ikut anak-anak cowok yang nakalnya tingkat dewa. Kenapa aku nggak lawan? Entah waktu itu aku kayak nggak punya keberanian buat ngomong “enggak mau” itu terasa berat campur takut dan pengen nangis. Kalau di inget malah mesam-mesem pengen ketawa juga marah sih waktu aku pengen ngebantuin (sebut saja Rias) dari omelan kamu karena dia salah beliin kamu minuman, kamu malah nusuk tanganku dengan jarum. Anehnya sekelas enggak ada yang mau bantuin aku sama (sebut saja Rias), entah mereka takut atau memang kami menjadi tontonan yang apik. Apapun motif perlakuan kamu ke aku, yaudah aku terima dan aku maafin walau mungkin kamu udah lupa.
Alhamdulillah sih, sekarang aku udah berani ngomong tidak kalau emang enggak sesuai dengan aku. Udah pede sama diri aku, dan pastinya aku bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepadaku, karena kalo ngomong tentang keburukan enggak ada habisnya.
Buat semua pembully lainnya juga, tolong jangan salahin kami ya kalau momen-momen kami dibully dulu masih nggak bisa kami lupain sampai tua kelak. Karena kayak judul lagunya The Corrs: Forgiven not Forgotten. Mungkin kami bisa memaafkan, tapi sulit bagi kami untuk melupakan. Ibarat paku yang kalian tancapkan di atas papan, begitu juga kondisi hati kami. Meski paku itu sudah tercabut, bekasnya akan selalu ada. Tersimpan rapi di hati kami. Doakan saja semoga kami tidak mendendam. Ok, see you on top!
Salam cinta,
Dariku sang korban bullying
* * *

Hahh.. lega udah nulis semua yang ada di pikiran. Kalau dibilang mirip sama novel aslinya, emang iya. Karena aku suka banget sama kata-katanya halus tapi langsung mengena (ciiieeee....). Sekian post kali ini, semoga terinspirasi dan bagi para korban bullying ayo tunjukkan kepada mereka semua dengan kesuksesan. ^_^

Wassalamualaikum Wr. Wb

2 komentar:

  1. Ternyata pernah jadi korban bully juga Yo... *toss 😂 Jangan sedih, biasanya di masa depan orang yg dibully bisa lebih berhasil dari orang yang membully... 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. *toss wkwk samaan mbakk.... Amin mba Erna aminn :D

      Hapus

Popular Posts